Legenda Batu Ratapan Angin di Dieng

Google Adsense Here

Batu Ratapan Angin merupakan sebuah Batu pandang yang terdapat di Dieng atau tepatnya di atas Dieng Plateu Theater. Di daerah ini anda dapat melihat pemandangan berupa dua buah telaga yaitu Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari atas bukit. Pemandangan ini akan terlihat mengagumkan sekali sehingga banyak wisatawan yang datang dan berfoto ria di lokasi ini. Di lokasi Batu Ratapan Aggin ini terdapat dua buah kerikil besar daerah kita bangkit menikmati pemandangan yang terletak di bawah. Ada dongeng menarik seputar Batu Ratapan Angin ini terkait denga asal-usulya. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan Legenda Batu Ratapan Angin. Penasaran ibarat apa kisahnya ? Berikut ialah Kisah asal-usul Batu Ratapan Angin selengkapnya.

 Legenda Batu Ratapan Angin di Dieng



Pada zaman dahulu hiduplah pasangan yang terdiri dari seorang pangeran yang ganteng dan seorang putri yang cantik jelita. Keduanya menjalin kasih, saling menyayangi dan bahagia di suatu wilayah. Suatu ketika, ada pihak ketiga yang mencampuri korelasi percintaan keduanya. Seorang laki-laki ini begitu mempesona sehingga menggoda sang putri. Sang Putri pun rahasia menjalin cinta dengan lelaki tadi.

Google Adsense Here

Meskipun ditutupi dengan begitu rapatnya, suatu ketika keburukan pasti akan tercium juga. Sang Pangeran alhasil mencicipi ada hal gila dalam sikap sang putri. Akhirnya secara rahasia Pangeran tersebut menyelidiki ada apa bergotong-royong dengan sikap gila sang putri. Suatu ketika sang putri keluar untuk menjalin kasih dengan kekasih barunya. Tanpa diketahui sang Putri, Pangeran mengikuti dari belakang. Sampailah di sebuah bukit, sang putri bertemu dengan lelaku yang menjadi kekasihnya dan memadu kasih di daerah yang rindang itu. Betapa terkejutnya sang Pangeran melihat kejadian itu. Tanpa menuggu lama-lama lagi, Pangeran eksklusif menghadik kedua pasangan tak resmi itu. Sang putri yang melihat sang Pangeran muncul tiba-tiba menjadi kaget setengah mati. Pertengkaran sengit pun terjadi diantara ketiganya. Akibat tersulut rasa emosi, sang putri berbuat nekat dengan berusaha membunuh sang Pangeran. Sang pangeran menjadi murka, dan alhasil mengutuk sang putri dan kekasih gelapnya menjadi batu. Sang Putri menjadi kerikil yang duduk sedang lelaki selingkuhannya menajdi kerikil yang berdiri. Batu-batu ini apabila diterpa angin yang kencang akan mengakibatkan suara-suara ibarat rintihan. Suara ini dianggap sebagai bunyi tangisan keduanya dan meratapi kesalahannya. Masyarakat kemudian menamai kerikil tersebut dengan “Batu Ratapan Angin”.

Sampai ketika ini Legenda Batu Ratapan Angin tersebut banyak beredar di masyarakat. Namun semua kembali ke diri kita apakah mau mempercayai legenda Batu Ratapan Angin diatas atau tidak. Yang jelas, bergotong-royong bunyi gila dari tiupan angin bukanlah hal yang aneh. Fenomena ibarat ini bergotong-royong mampu dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Mari kunjungi Obyek Wisata yang sangat menarik di Dieng.

Google Adsense Here